China dan Rusia keberatan atas usulan seruan bersama Dewan Keamanan PBB mengenai Yaman.
Para anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) belum berhasil bersepakat menanggapi krisis politik berdarah di Yaman. Kekerasan di negara itu pun terus berlangsung, dimana sedikitnya tiga orang tewas akibat tembakan pasukan keamanan.
Menurut stasiun berita CNN, dalam sidang pertama Dewan Keamanan PBB yang membahas situasi Yaman di New York, Selasa malam waktu setempat (Rabu pagi WIB), Yaman, Jerman dan Lebanon mengusulkan seruan bersama agar pihak-pihak yang berkepentingan segera menghentikan kekerasan dan mulai berdialog. Muncul usulan agar Dewan Kerjasama Negara-negara Teluk bisa dilibatkan sebagai mediator.
Namun, menurut seorang diplomat, seruan bersama itu mendapat keberatan dari China dan Rusia, dua anggota Dewan Keamanan PBB yang memiliki hak veto. Sejumlah delegasi negara lain mengaku butuh waktu untuk berkonsultasi dengan pemerintah masing-masing karena, menurut seorang diplomat lainnya, krisis di Yaman itu merupakan isu sensitif dan rumit sehingga Dewan Keamanan PBB tidak bisa begitu saja mengeluarkan tanggapan.
Sementara itu, situasi keamanan di Yaman kian mencekam. Pasukan keamanan Selasa kemarin menembaki para pemorotes, yang menetang rezim Presiden Ali Abdullah Saleh di Kota Sanaa dan Taiz. Insiden itu menewaskan sedikitnya tiga orang dan puluhan lainny terluka, ungkap sejumlah saksi mata dan tim medis setempat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.